Minggu, 09 Juni 2019

SKAKMAT ALA TURNITIN


Caleru, 31 mei 2019

P
ada suatu siang dengan wajah-wajah lelah setelah  praktikum Aplikasi Teknologi Hasil Nabati. Kami menuju ke kelas untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya yakni Metode Penulisan dan Penyajian Ilmiah. Kelas ini diikuti oleh dua angkatan yakni 2017 dan 2016 Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan.
Pak dosen memasuki ruangan dan langsung membuka laptopnya. Tak ada materi baru hari ini, tapi lebih dari itu ada sebuah kejutan bagi kami. Uji Plagiat pakai Turnitin. Turnitin merupakan salah satu website yang memberikan kemudahan dalam memeriksa plagiat yang berbentuk tulisan. Bagi mereka yang betul-betul mengerjakan tugas kemarin dengan sebaik-baiknya ini biasa saja. Tapi bagi mereka yang sekedar kumpul tugas, ini adalah bencana. Bagaimana tidak ? didalam kelas yang isinya ada junior dan senior ini, juga ada asisten dan praktikan. Tentu akan sangat memalukan jika terbukti tulisan yang kami buat itu adalah hasil plagiat.
Ketika tugas kami berhasil disubmit, maka muncullah dilayar proyektor tugas kami yang dicek.  Lengkap dengan angka seberapa persen kemiripan tulisan yang kami buat dengan beberapa sumber. Hanya hitungan detik beberapa dari tugas kami berhasil diperiksa. Warna merah pun muncul dibeberapa tugas dan yang paling tinggi dengan nilai 83%. Nilai tinggi dengan warna merah ini berada paling bawah diantara file tugas lainnya. Tak ada nama penulis dijudul, tapi siapapun pemilik tugas ini tentu ini bukanlah kabar baik, Seolah mendengar kata Skakmat. Tak ada yang bisa berkilah. Ini bukan nilai tertinggi yang setiap mahasiswa harapkan ketika ujian. Di jurusan ini sendiri batas plagiasi mahasiswa ITP itu 30 %, jadi < 30 % akan lolos uji. Jadi dengan nilai setinggi itu, sudah pasti dianggap plagiat. Bagi mereka yang lolos turnitin akan diberi simbol warna hijau.
Wajah-wajah yang semula lelah ini menjadi autofokus, deg-degan menunggu tampilan tugas tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa betul-betul inilah yang dikatakan plagiat. Hampir seluruh isi dari tulisan tersebut hasil copas. Baik itu perkalimat maupun perparagraf yang ditampilkan dengan lengkap dengan sumber yang dicopas. Turnitin betul-betul memeriksa secara luar biasa. Bukan hanya membandingkan kalimat ataupun paragraf, namun kata perkata. Rincian berbagai sumber ditemukan juga akan ditampilkan. Parahnya lagi ketika mengutip, namun tidak mencantumkan sumbernya.
Kami yang ada diruangan akhirnya sadar bahwa sangat penting untuk memahami tentang plagiasi ini sendiri. Sebagai seorang mahasiswa yang seharusnya membaca, menulis, dan berpikir tentu menjadi suatu kewajiban untuk melawan plagiasi. Menurut KKBI, plagiasi merupakan pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya sebagai karangan sendiri. Bisa dikatakan sebagai pencuri. Lantas jika sudah seperti itu, malu rasanya jika telah katahuan. Jika tak ingin disebut plagiarisme maka hindarilah.
Lantas bagaimana cara menghindarinya?
Nah, berikut tips agar tidak terjadi skakmat oleh turniting, anti plagiarisme:

1.        Hindari Copas (copy paste)
Copas adalah jawaban dari semua pertanyaan. Salah satu kebiasaan mahasiswa, apalagi yang mengerjakan tugas pakai sistem kebut semalam (SKS). Supaya tidak disebut plagiat, maka kurangi menekan Ctrl+ c dan Ctrl + v.

2.        Cantumkan Sumber
Sumber menjadi salah satu identitas bahwa apa yang kita tulis dari hasil pendapat orang lain. Sangat penting untuk mencantumkan sumber, terutama yang didapat dari internet. Turnitin sangat mudah menemukan sumber yang mirip dengan tulisan yang kita buat. Mencantumkan penulis aslinya biasanya ketika kita melakukan copas, tapi disarankan supaya tidak keringat dingin menanti hasil Turnitin hindari copas.

3.        Gunakan Parafrase
Salah satu tips menghindari copas ialah dengan parafrase. Parafrase dilakukan dengan mengutip pendapat orang lain, namun dengan bahasa atau pendapat sendiri. Parafrase bukan hanya soal menambah atau mengurangi pendapat orang lain, tapi lebih kepada bagaimana menyampaikan pendapat sendiri namun maknanya tetap sama.

4.        Pakai Sumber Internasional
Turnitin tidak akan mudah mendeteksi plagiarisme ketika sumber yang kita gunakan adalah sumber internasional yang berbahasa inggris. Tentu saja ketika diubah ke bahasa Indonesia katanya tidak akan sama. Selain itu, jika menggunakan sumber Internasional ini akan meningkatkan kredibilitas sebagai sorang penulis. Peluang untuk copas juga tentu akan sangat sedikit dan mengharuskan kita untuk lebih banyak berpikir.

5.        Hindari dokumen legal
Nah, dokumen legal yang dimaksud disini itu seperti SNI, peraturan-peraturan pemerintah, dsb. Keakuratan Turnitin sangat dipercaya bahkan kadang over, sehingga kalimat-kalimat seperti metodologi praktikum, pendahuluan, kata kunci, dll juga dapat terdeteksi. Sehingga hasil pemeriksaan Turnitin itu masih perlu kita receck.

Jadi, buat teman-teman sekalian... menjadi seorang penuntut ilmu atau akademisi bukan hanya soal bagaimana kita mendapat gelar. Tapi tentang bagaimana kita membaca, berpikir, dan menulis supaya tidak disebut plagiat..... Ketahuan plagiat sama saja ketahuan mencuri.