Caleru, 31 mei 2019
P
|
ada suatu siang
dengan wajah-wajah lelah setelah
praktikum Aplikasi Teknologi Hasil Nabati. Kami menuju ke kelas untuk
mengikuti mata kuliah selanjutnya yakni Metode Penulisan dan Penyajian Ilmiah. Kelas
ini diikuti oleh dua angkatan yakni 2017 dan 2016 Prodi Ilmu dan Teknologi
Pangan.
Pak dosen
memasuki ruangan dan langsung membuka laptopnya. Tak ada materi baru hari ini,
tapi lebih dari itu ada sebuah kejutan bagi kami. Uji Plagiat pakai Turnitin. Turnitin
merupakan salah satu website yang memberikan kemudahan dalam memeriksa plagiat
yang berbentuk tulisan. Bagi mereka yang betul-betul mengerjakan tugas kemarin
dengan sebaik-baiknya ini biasa saja. Tapi bagi mereka yang sekedar kumpul
tugas, ini adalah bencana. Bagaimana tidak ? didalam kelas yang isinya ada
junior dan senior ini, juga ada asisten dan praktikan. Tentu akan sangat
memalukan jika terbukti tulisan yang kami buat itu adalah hasil plagiat.
Ketika tugas
kami berhasil disubmit, maka muncullah dilayar proyektor tugas kami yang
dicek. Lengkap dengan angka seberapa
persen kemiripan tulisan yang kami buat dengan beberapa sumber. Hanya hitungan
detik beberapa dari tugas kami berhasil diperiksa. Warna merah pun muncul
dibeberapa tugas dan yang paling tinggi dengan nilai 83%. Nilai tinggi dengan
warna merah ini berada paling bawah diantara file tugas lainnya. Tak ada nama
penulis dijudul, tapi siapapun pemilik tugas ini tentu ini bukanlah kabar baik,
Seolah mendengar kata Skakmat. Tak ada yang bisa berkilah. Ini bukan nilai
tertinggi yang setiap mahasiswa harapkan ketika ujian. Di jurusan ini sendiri
batas plagiasi mahasiswa ITP itu 30 %, jadi < 30 % akan lolos uji. Jadi
dengan nilai setinggi itu, sudah pasti dianggap plagiat. Bagi mereka yang lolos
turnitin akan diberi simbol warna hijau.
Wajah-wajah yang
semula lelah ini menjadi autofokus, deg-degan menunggu tampilan tugas tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa betul-betul inilah yang dikatakan plagiat.
Hampir seluruh isi dari tulisan tersebut hasil copas. Baik itu perkalimat
maupun perparagraf yang ditampilkan dengan lengkap dengan sumber yang dicopas.
Turnitin betul-betul memeriksa secara luar biasa. Bukan hanya membandingkan
kalimat ataupun paragraf, namun kata perkata. Rincian berbagai sumber ditemukan
juga akan ditampilkan. Parahnya lagi ketika mengutip, namun tidak mencantumkan
sumbernya.
Kami yang ada
diruangan akhirnya sadar bahwa sangat penting untuk memahami tentang plagiasi
ini sendiri. Sebagai seorang mahasiswa yang seharusnya membaca, menulis, dan
berpikir tentu menjadi suatu kewajiban untuk melawan plagiasi. Menurut KKBI, plagiasi
merupakan pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan
menjadikannya sebagai karangan sendiri. Bisa dikatakan sebagai pencuri. Lantas
jika sudah seperti itu, malu rasanya jika telah katahuan. Jika tak ingin
disebut plagiarisme maka hindarilah.
Lantas bagaimana
cara menghindarinya?
Nah, berikut
tips agar tidak terjadi skakmat oleh turniting, anti plagiarisme:
1.
Hindari
Copas (copy paste)
Copas adalah
jawaban dari semua pertanyaan. Salah satu kebiasaan mahasiswa, apalagi yang
mengerjakan tugas pakai sistem kebut semalam (SKS). Supaya tidak disebut plagiat,
maka kurangi menekan Ctrl+ c dan Ctrl + v.
2.
Cantumkan
Sumber
Sumber menjadi
salah satu identitas bahwa apa yang kita tulis dari hasil pendapat orang lain.
Sangat penting untuk mencantumkan sumber, terutama yang didapat dari internet.
Turnitin sangat mudah menemukan sumber yang mirip dengan tulisan yang kita
buat. Mencantumkan penulis aslinya biasanya ketika kita melakukan copas, tapi
disarankan supaya tidak keringat dingin menanti hasil Turnitin hindari copas.
3.
Gunakan
Parafrase
Salah satu tips
menghindari copas ialah dengan parafrase. Parafrase dilakukan dengan mengutip
pendapat orang lain, namun dengan bahasa atau pendapat sendiri. Parafrase bukan
hanya soal menambah atau mengurangi pendapat orang lain, tapi lebih kepada
bagaimana menyampaikan pendapat sendiri namun maknanya tetap sama.
4.
Pakai
Sumber Internasional
Turnitin tidak
akan mudah mendeteksi plagiarisme ketika sumber yang kita gunakan adalah sumber
internasional yang berbahasa inggris. Tentu saja ketika diubah ke bahasa
Indonesia katanya tidak akan sama. Selain itu, jika menggunakan sumber
Internasional ini akan meningkatkan kredibilitas sebagai sorang penulis.
Peluang untuk copas juga tentu akan sangat sedikit dan mengharuskan kita untuk
lebih banyak berpikir.
5.
Hindari
dokumen legal
Nah, dokumen
legal yang dimaksud disini itu seperti SNI, peraturan-peraturan pemerintah,
dsb. Keakuratan Turnitin sangat dipercaya bahkan kadang over, sehingga
kalimat-kalimat seperti metodologi praktikum, pendahuluan, kata kunci, dll juga
dapat terdeteksi. Sehingga hasil pemeriksaan Turnitin itu masih perlu kita
receck.
Jadi, buat
teman-teman sekalian... menjadi seorang penuntut ilmu atau akademisi bukan
hanya soal bagaimana kita mendapat gelar. Tapi tentang bagaimana kita membaca,
berpikir, dan menulis supaya tidak disebut plagiat..... Ketahuan plagiat sama
saja ketahuan mencuri.